Tag Archives: gambar anak

Lembar Mewarnai : T – Rex The Dinosaur

25 May

Sejak kecil saya menyenangi dinosaurus terutama Tyrannosaurus rex atau T-rex. Sosoknya yang kokoh dalam film Jurassic Park is very cool! Apalagi setelah ada film Toy Story. Dan tentunya tokoh favorit saya adalah REX the green dinosaur!

Meski disebut sebagai dinosaurus yang kejam, bentuk fisiknya sangat menarik dan terkesan lucu dengan kepala dan badan yang berukuran besar namun dengan tangan yang kecil.

Ini adalah salah satu lembar mewarnai favorit saya,

Sumber gambar : http://www.disney.com

Advertisements

The World of Sidra

14 Sep

I really love the colorful life of Sidra Azzura Putra

Living in Japan, the 7 years old lucky boy loves drawing, making things and Michael Jackson. Like meee!! Hahahaa..

It’s a super interesting blog!!! You’ll never get bored.

Find Sidra’s here. You will never know that hell is as colorful as it is,

Jigoku (Hell) by Sidra Azzura Putra

See! If you are a really really bad person, you’ll be eaten by a green monster. Or maybe ended in a stomach of a dinosaur.

Ok stop, don’t let me ruin his story 😀

Proses Penciptaan Karya Seni oleh Anak

17 Mar

Karya seni?
Buatan Picasso sama Raden Saleh aja?
Coretan anak di dinding dan puisi yang ia tempelkan di kulkas apakah karya seni?

    Mengamati > Merasakan > Berpikir > Melakukan

Proses Mengamati memberikan kesempatan bagi anak untuk mengembangkan kepekaan persepsinya, dimana anak dapat mengembangkan kemampuannya dalam melakukan pengamatan kritis.
Proses Merasakan memberikan kesempatan bagi anak untuk mengembangkan respon estetik melalui kegiatan mengapresiasi dan mengembangkan kepekaan penilaian estetis sejak dini.
Proses Berpikir kemudian lebih personal. Dimana anak belajar mengembangkan kemampuan mengevaluasi setelah mengapresiasi.
Proses Melakukan merupakan proses yang paling personal. Dimana anak mengungkapkan gagasannya, emosinya, perasaannya, apa yang telah dipikirkannya kedalam suatu bentuk kegiatan dan objek. Disini ia belajar mengembangkan keterampilannya dalam menentukan alat dan media untuk menghasilkan bentuk visual yang dapat dilihat dan dinikmati oleh orang banyak.

Proses penciptaan karya seni pada umumnya dilakukan melalui tahapan demikian.
Saat anak mulai mengamati lingkungannya hingga perasaannya, lalu ia berpikir akan kejadian-kejadian, hingga akhirnya ia akan mengekspresikan apa yang ia pikirkan dalam bentuk nyata. Bisa coretan, guntingan, berbentuk atau ”acak-acakan”, it’s all about expression. A free of exppression! Hidup anak adalah tentang freedom! Berkesenian pun adalah freedom!

cheers,
sallynatanegara

Gambar Anak

15 Mar

Gambar Anak

Waktu pertamakali mengikuti lomba menggambar tingkat anak-anak, menurut cerita dari kedua orangtua saya, saya menggambarnya dengan penuh perasaan sambil terus bercerita. Kadang sambil disuapi makan, tidur-tiduran dulu, main dulu, sampai akhirnya saya bilang ini sudah selesai gambarnya. Kelihatannya sama sekali tidak serius dan kalau orang lain liat mungkin bilang gambar saya jelek. Pokoknya saya heboh melakukan hal diluar kewajaran seorang anak yang sedang mengikuti lomba gambar, sedangkan samping kanan-kiri saya, sudah gambarnya hebat-hebat, warnanya dahsyat, serius pula. Orangtua saya memang tidak berniat mengikutsertakan saya untuk berkompetisi, hanya untuk pengalaman. Kalau ternyata pada akhirnya saya juara, ya mungkin sebagai bonus. Jeleknya, karena dari awal saya sudah menang, ketika di berbagai perlombaan berikutnya saya tidak memenangkan penghargaan, saya bisa ngamuk-ngamuk! Dasar anak-anak!

Oh iya apa yang Anda bayangkan saya gambar waktu itu? Untungnya, saya nggak menggambar pemandangan sawah kotak-kotak plus dua gunung yang ditengahnya ada setengah lingkaran matahari. Heheee… Gambar saya pada saat itu adalah gambaran dari keluarga inti saya, mom, papap dan adik perempuan saya, Binna. Nanti saya cari dulu foto dari gambar itu, karena dulu menjadi hak milik panitia setelah saya berhak membawa piala dan hadiah hasil juara I nya 😀

Dari beberapa studi, saya pernah membaca bahwa hasil gambar anak-anak bisa diklasifikasikan kedalam empat kategori yaitu:
1. Gambar Spontan, dimana mereka mengambar atas inisiatif sendiri dan dianggapnya sebagai bagian dari kegiatan bermain. Mereka bebas menggambar apapun yang mereka mau.
2. Gambar Bebas, yaitu hasil dari proses menggambar yang dilakukan atas permintaan orang lain. Misalnya diminta oleh orangtua, guru atau temannya. Temanya masih dipilih sendiri oleh si anak.
3. Gambar Terarah, adalah hasil dari dari proses menggambar yang temanya sudah ditentukan. Banyak lomba menggambar yang menentukan tema sehingga anak dapat menggambarkan hasil interpretasi mereka dari tema tersebut.
4. Menyalin atau Melengkapi Gambar, dimana anak menggambar mengikuti pola yang telah ada atau mewarnai dan memberikan tambahan atas format yang telah dipersiapkan. Hal ini baik untuk melatih kepekaan anak terhadap bentuk.

Saya pikir, dengan cara apa pun anak menggambar, biarkanlah mereka berkreasi bebas. Orang dewasa tidak perlu memberitahukan mereka bahwa awan itu biru rumput itu hijau. Jika mereka ingin menggambar awan berbentuk segitiga dengan warna magenta dan rumput berbentuk lingkaran-lingkaran berwarna emas, biarkanlah. Mungkin memang mereka melihatnya seperti itu atau ingin menyampaikan sesuatu. Bebas lah yaaa anak-anaaak 🙂

Ketika menulis ini saya jadi teringat salah satu dosen favorit saya di kampus dulu, FSRD ITB, Prof. Dr. Primadi Tabrani dan mata kuliahnya PSSR, how i missed him. Terakhir kali jumpa beliau sedang berjalan-jalan berdua dengan sang isteri. So romantic, Prof! ^^

cheers,
sallynatanegara

bakat?

14 Mar

berbakat kah anak kita? kalau kita sendiri? terus, emang bakat itu apa?

Saya sudah terbiasa dengan ”art things” sejak lama sekali, mungkin puncaknya sekira tahun 1988 ketika saya masih berusia 2 tahun dan memenangkan sebuah piala dari Lomba Kreativitas Melukis tingkat Anak-anak di Kebun Binatang Bandung. That was my greatest moment, said my mom and pap. Mereka bilang hanya iseng-iseng mendaftarkan saya ke lomba tersebut dan ternyata menang. Mulai dari sana lah mereka memiliki pikiran bahwa saya memiliki ”bakat” seni. Wah! Jadi saya adalah anak berbakat dong dari dulu? Horeee! Kalau ditanya, “Punya bakat apa Sal?” jadi saya bisa jawab, “Bakat seni nih!” Keren nggak tuh? hehehe…

Namun, hingga saat ini saya masih ragu akan arti dari bakat. Apa sebenarnya bakat itu? Apakah itu merupakan sesuatu yang sangat prinsipil dimana kehebatan seseorang pada akhirnya harus diperkuat oleh pernyataan, ”Oh emang dia berbakat menyanyi sejak masih anak-anak. Sering dapat piala waktu Agustusan pula. Pantas lah bila dia menjadi penyanyi idola saat ini.” Hmmm???

Bakat mungkin sesuatu yang diberikan Tuhan kepada beberapa orang untuk lebih mudah memahami/menguasai sesuatu dibandingkan dari orang lainnya, tapi bukan berarti orang yang ”tidak memiliki” bakat tidak akan bisa mempelajarinya bukan?
Saya sendiri percaya ungkapan, Learning by Doing, semuanya dapat dipelajari dengan melakukannya.
Banyak orangtua khawatir ketika mereka berpikir bahwa anaknya ”tidak memiliki bakat”, wah wah.. saya pikir itu aneh! Bukannya bakat tidak bisa dipaksakan dan tidak semua orang memilikinya? Mengapa jika memang anak kita tidak memiliki bakat istimewa sedari dini? Sebermasalahnya kah itu? Menurut Anda?

cheers,
sallynatanegara