apa itu metode montessori?

17 Jun

Tahun lalu, saya bertanya kepada seorang teman yang tinggal di NY, USA, tren mendidik seperti apa yang sedang digandrungi disana. Kami berbicara banyak, lalu dia menyarankan agar saya mengikuti metode montessori untuk berkegiatan di rumah bersama Dylan. Saya memutuskan untuk tidak “menyekolahkan” Dylan ke preschool/dll sampai nanti waktunya dia bisa masuk ke TK. Kenapa? Tidak ada alasan yang spesifik. Saya hanya mengikuti intuisi dan pengalaman hidup saya sendiri, yang mulai “bersekolah” sejak TK. Beberapa minggu terakhir ini, menjelang usia Dylan yang ke-3 tahun, saya mulai menerapkan metode montessori di rumah. Dengan peralatan yang ada dirumah, hanya berbekal informasi dari internet saja.

Dr. Maria Montessori (lahir 31 Agustus 1870) adalah seorang dokter wanita pertama di Italia yang mulai mengembangkan metode pendidikan yang membiarkan anak-anak mempelajari sesuatu berulang-ulang, melakukan pekerjaannya sendiri, membiarkannya memperbaiki kesalahan yang ia lakukan sendiri, dan memiliki kebebasan untuk memilih pekerjaan yang ingin ia lakukan. Metode ini awalnya ia terapkan untuk anak-anak dengan keterbelakangan mental, melihat hasilnya yang sangat baik, Maria yakin menerapkan metodenya ini kepada anak-anak yang normal akan memberikan hasil yang akan lebih baik lagi.

Yang saya pelajari, ada tiga cara dasar dalam membimbing anak untuk belajar dengan metode ini,

1. Periode 1: Pengenalan (Ini adalah …)

2. Periode 2: Asosiasi/Rekognisi (Coba tunjukan …, Mana … ya?)

3. Periode 3: Recall ( Ini apa ya?)

Semua dilakukan dengan bahasa yang sederhana, semakin sedikit kata/petunjuk semakin banyak yang akan ia pelajari. Dalam metode ini, anak dihargai sama sebagai manusia. Bukan sekedar orang dewasa kecil. Di rumah, saya mulai membuat lingkungan montessori yang membuat Dylan merasa kedudukannya setara dengan semua orang dewasa yang ada dirumah ini. Misalnya dengan menaruh tempat sepatu khusus, membuat gantungan baju yang bisa ia jangkau sendiri, membuat tempat mainan yang bisa ia jangkau kapan saja, bebas memakai pakaian yang ia pilih, melakukan hal-hal domestik, dan sebagainya. Bukan sebagai pembantu orangtuanya, tetapi sebagai orang yang melakukan perbuatan untuk dirinya sendiri.

Metode ini mudah namun sulit, mudah menerapkannya, namun sulit menahan kebiasaan-kebiasaan lain yang sudah tertanam pada diri saya sebagai pembimbingnya, yang selalu “biasanya juga begini lebih mudah…”πŸ˜€

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: