Archive | June, 2014

semenarik apakah aktifitas dengan biji kacang hijau bagi balita?

19 Jun
dylan and the mung beans

dylan and the mung beans

Bagaimana Dylan menjelajahi kacang hijau dari hari ke hari:

1. Dia senang ketika melihat baki yang saya siapkan. Isinya dua mangkuk dan satu sendok dengan biji kacang hijau di mangkuk yang lebih tinggi. Lalu dia hanya melihat kacang hijau didalamnya dan menyentuhnya dengan menggunakan satu jari.
2. Saya menggunakan sendok untuk menyekop dan mulai menuangkan kacang dari satu mangkuk yang lain, berharap dylan melihat dan meniru. Ya, dia menirukannya. Tapi hanya sementara. Dia lebih tertarik untuk bermain puzzle.
3. Hari berikutnya, ia mulai melakukan aktifitas menyendok biji kacang hijau dengan sendok. Berlangsung dalam waktu yang lebih lama. Dan ia semakin mahir melakukannya.
4. Saya menambahkan beberapa silinder ke dalam baki. Pada awalnya dia mulai menuangkan seperti biasa, dari mangkuk besar ke mangkuk kecil. Lalu ia mulai terganggu dengan silinder, dan mulai main tumpuk-menumpuk. Kemudian, ia mulai mencubit biji kacang hijau itu satu persatu dan dimasukan kedalam silinder.
5. Setelah beberapa hari pengulangan kerja. Dia bertanya apakah tidak apa-apa untuk menuangkan kacang ke dalam baki. Ya, tentu saja. Dengan senangnya dia menuangkan dan mulai mengeksplorasi suara yang dihasilkan dari biji kacang hijau yang beradu satu sama lain. Sekitar 20 menit dia bermain dengan suara, mendengarkannya dengan seksama. Ia menemukan jika digoyang dengan cepat, suara yang dihasilkan pun berbeda. Ia juga menemukan beberapa bentuk seperti segitiga yang terbentuk oleh pergerakan biji kacang hijau.
6. Mari kita lihat apa lagi yang bisa dilakukan lebih banyak hanya dengan material biji kacang hijau.

Advertisements

apa itu metode montessori?

17 Jun

Tahun lalu, saya bertanya kepada seorang teman yang tinggal di NY, USA, tren mendidik seperti apa yang sedang digandrungi disana. Kami berbicara banyak, lalu dia menyarankan agar saya mengikuti metode montessori untuk berkegiatan di rumah bersama Dylan. Saya memutuskan untuk tidak “menyekolahkan” Dylan ke preschool/dll sampai nanti waktunya dia bisa masuk ke TK. Kenapa? Tidak ada alasan yang spesifik. Saya hanya mengikuti intuisi dan pengalaman hidup saya sendiri, yang mulai “bersekolah” sejak TK. Beberapa minggu terakhir ini, menjelang usia Dylan yang ke-3 tahun, saya mulai menerapkan metode montessori di rumah. Dengan peralatan yang ada dirumah, hanya berbekal informasi dari internet saja.

Dr. Maria Montessori (lahir 31 Agustus 1870) adalah seorang dokter wanita pertama di Italia yang mulai mengembangkan metode pendidikan yang membiarkan anak-anak mempelajari sesuatu berulang-ulang, melakukan pekerjaannya sendiri, membiarkannya memperbaiki kesalahan yang ia lakukan sendiri, dan memiliki kebebasan untuk memilih pekerjaan yang ingin ia lakukan. Metode ini awalnya ia terapkan untuk anak-anak dengan keterbelakangan mental, melihat hasilnya yang sangat baik, Maria yakin menerapkan metodenya ini kepada anak-anak yang normal akan memberikan hasil yang akan lebih baik lagi.

Yang saya pelajari, ada tiga cara dasar dalam membimbing anak untuk belajar dengan metode ini,

1. Periode 1: Pengenalan (Ini adalah …)

2. Periode 2: Asosiasi/Rekognisi (Coba tunjukan …, Mana … ya?)

3. Periode 3: Recall ( Ini apa ya?)

Semua dilakukan dengan bahasa yang sederhana, semakin sedikit kata/petunjuk semakin banyak yang akan ia pelajari. Dalam metode ini, anak dihargai sama sebagai manusia. Bukan sekedar orang dewasa kecil. Di rumah, saya mulai membuat lingkungan montessori yang membuat Dylan merasa kedudukannya setara dengan semua orang dewasa yang ada dirumah ini. Misalnya dengan menaruh tempat sepatu khusus, membuat gantungan baju yang bisa ia jangkau sendiri, membuat tempat mainan yang bisa ia jangkau kapan saja, bebas memakai pakaian yang ia pilih, melakukan hal-hal domestik, dan sebagainya. Bukan sebagai pembantu orangtuanya, tetapi sebagai orang yang melakukan perbuatan untuk dirinya sendiri.

Metode ini mudah namun sulit, mudah menerapkannya, namun sulit menahan kebiasaan-kebiasaan lain yang sudah tertanam pada diri saya sebagai pembimbingnya, yang selalu “biasanya juga begini lebih mudah…” 😀