Archive | March, 2009

Proses Penciptaan Karya Seni oleh Anak

17 Mar

Karya seni?
Buatan Picasso sama Raden Saleh aja?
Coretan anak di dinding dan puisi yang ia tempelkan di kulkas apakah karya seni?

    Mengamati > Merasakan > Berpikir > Melakukan

Proses Mengamati memberikan kesempatan bagi anak untuk mengembangkan kepekaan persepsinya, dimana anak dapat mengembangkan kemampuannya dalam melakukan pengamatan kritis.
Proses Merasakan memberikan kesempatan bagi anak untuk mengembangkan respon estetik melalui kegiatan mengapresiasi dan mengembangkan kepekaan penilaian estetis sejak dini.
Proses Berpikir kemudian lebih personal. Dimana anak belajar mengembangkan kemampuan mengevaluasi setelah mengapresiasi.
Proses Melakukan merupakan proses yang paling personal. Dimana anak mengungkapkan gagasannya, emosinya, perasaannya, apa yang telah dipikirkannya kedalam suatu bentuk kegiatan dan objek. Disini ia belajar mengembangkan keterampilannya dalam menentukan alat dan media untuk menghasilkan bentuk visual yang dapat dilihat dan dinikmati oleh orang banyak.

Proses penciptaan karya seni pada umumnya dilakukan melalui tahapan demikian.
Saat anak mulai mengamati lingkungannya hingga perasaannya, lalu ia berpikir akan kejadian-kejadian, hingga akhirnya ia akan mengekspresikan apa yang ia pikirkan dalam bentuk nyata. Bisa coretan, guntingan, berbentuk atau ”acak-acakan”, it’s all about expression. A free of exppression! Hidup anak adalah tentang freedom! Berkesenian pun adalah freedom!

cheers,
sallynatanegara

Pendidikan Anak Usia Dini

16 Mar

Dari Wikipedia bahasa Indonesia, ensiklopedia bebas

Pendidikan anak usia dini (PAUD) adalah jenjang pendidikan sebelum jenjang pendidikan dasar yang merupakan suatu upaya pembinaan yang ditujukan bagi anak sejak lahir sampai dengan usia enam tahun yang dilakukan melalui pemberian rangsangan pendidikan untuk membantu pertumbuhan dan perkembangan jasmani dan rohani agar anak memiliki kesiapan dalam memasuki pendidikan lebih lanjut, yang diselenggarakan pada jalur formal, nonformal, dan informal.
Pendidikan anak usia dini merupakan salah satu bentuk penyelenggaraan pendidikan yang menitikberatkan pada peletakan dasar ke arah pertumbuhan dan perkembangan fisik (koordinasi motorik halus dan kasar), kecerdasan (daya pikir, daya cipta, kecerdasan emosi, kecerdasan spiritual), sosio emosional (sikap dan perilaku serta agama) bahasa dan komunikasi, sesuai dengan keunikan dan tahap-tahap perkembangan yang dilalui oleh anak usia dini.

Ada dua tujuan diselenggarakannya pendidikan anak usia dini yaitu:
• Tujuan utama: untuk membentuk anak Indonesia yang berkualitas, yaitu anak yang tumbuh dan berkembang sesuai dengan tingkat perkembangannya sehingga memiliki kesiapan yang optimal di dalam memasuki pendidikan dasar serta mengarungi kehidupan di masa dewasa.
• Tujuan penyerta: untuk membantu menyiapkan anak mencapai kesiapan belajar (akademik) di sekolah.
Rentangan anak usia dini menurut Pasal 28 UU Sisdiknas No.20/2003 ayat 1 adalah 0-6 tahun. Sementara menurut kajian rumpun keilmuan PAUD dan penyelenggaraannya di beberapa negara, PAUD dilaksanakan sejak usia 0-8 tahun.

Ruang Lingkup Pendidikan Anak Usia Dini
• Infant (0-1 tahun)
• Toddler (2-3 tahun)
• Preschool/ Kindergarten children (3-6 tahun)
• Early Primary School (SD Kelas Awal) (6-8 tahun)

Sumber : http://id.wikipedia.org/wiki/Pendidikan_anak_usia_dini

Saya, Tempat Kursus dan Manfaatnya

16 Mar

Saya pernah mengikuti kursus seni. Kelas 3 SMA, niat saya untuk mendaftarkan diri ke FSRD ITB semakin mantap. Seperti kebanyakan siswa tingkat akhir, saya juga terpengaruh oleh ”pentingnya bimbingan belajar” akbat dari lingkungan, iklan dan promosi gencar yang dilakukan oleh tempat-tempat kursus. Karena saya ingin masuk fakultas seni, maka saya mendaftar ke salah satu bimbel seni rupa terkenal di daerah Dago pada waktu itu. Sekali, oke, kedua kali, oke, temennya rame-rame, tapi akhirnya saya bosan dan akhirnya keluar sendiri setelah beberapa kali pertemuan. Lalu saya dan teman memutuskan untuk privat gambar kepada seorang alumni FSRD ITB juga. Yang istrinya adalah ketua ikatan alumni SR-ITB. Disini saya lebih betah, waktu belajar yang malam hari pun saya nggak masalah, meski nyetir sendiri pulang malem dan kata adik saya rumahnya berhantu, saya betah! Hehehe… Awalnya disana cuman kami berdua, lalu bertambah dengan seorang lagi dan dua keponakan si Oom guru les itu. Seru! Diantara kami berlima, hanya saya dan teman yang akhirnya lolos masuk UMFSRD, tapi hanya saya yang akhirnya lulus sarjana dari FSRD karena si teman haruslah pindah ke uni lain karena satu dan lain hal. Padahal waktu privat dulu, kami berdua lah yang paling sering ngabur, bolos ke mana kek, paling nggak serius dibanding tiga yang lain. Oiya ternyata, salah satu dari tiga itu ada yang buta warna parsial, sehingga dia gak mungkin masuk SR.

Rutinitas berangkat ke tempat les dengan satu kelas berisi belasan orang ternyata nggak cocok buat saya. I would prefer stay on a smaller class dengan cara belajar yang lebih personal. Hanya saja waktu itu saya udah kelas 3 SMA jadi agak malas kalau mesti guru privatnya yang datang kerumah, maka saya lah yang nyamperin beliau.

Balik lagi ke waktu yang lebih lama, waktu saya memenangkan lomba gambar di masa kecil yang saya ikuti. Salah satunya, terdapat seorang juri yang ceritanya selalu saya kenang, Bapak Oho Garha. Beliau yang pengajar seni rupa dan pelukis terkenal, sempat berbicara dengan mom&pap, pada saat itu saya peserta terkecil yang menang. Beliau menyarankan agar mom&pap tidak mendaftarkan saya ke sebuah tempat kursus gambar ternama di Bandung. Padahal waktu itu mereka sangat berpikiran untuk segera memasukkan saya kesana karena di usia 3 tahun saya sudah sering memenangkan lomba gambar dan berpikiran sayang sekali jika ‘bakat’ saya ini tidak diarahkan. Setelah ngobrol ini itu sama Pak Oho, didapat kesimpulan kalau anak ini sebaiknya tidak mengikuti kursus gambar di tempat-tempat les yang sedang hip. Dilihat-lihat, meski mereka hasil didikan tempat les sering memenangkan lomba, gaya gambar, cara mewarna, dsb mirip satu sama lainnya, yes, they got the style, the same style. Jadi kemudian saya akhirnya menggambar bebas, i draw what i want, with my own style . Meski saya ingat betul, waktu kecil kadang ngambek, kenapa sih saya nggak dimasukkin les? Kan iri sama “anak-anak les” yang sering menang itu karena gambar mereka menurut saya bagus banget. Padahal saya nyempil diantara mereka menang-menang juga. Dulu mom&pap belum menceritakan kenapa, baru lah setelah saya masuk SR mereka cerita. Dan belasan tahun kemudian, saya dengar dari burung yang bergentayangan, dulu anak-anak les itu pasti menang karena yang mengadakan lomba gambarnya juga masih rekanan tempat les tersebut, sponsor yang itu-itu lagi, dan lain-lainya…

Banyak sekali tempat kursus seni di kota Bandung. Mulai dari seni rupa, seni tari, seni musik, dsb. Dengan hubungan antara saya dengan tempat kursus gambar seperti cerita diatas, saya sangat bahagia melihat perkembangan anak-anak yang ikut les dengan kemauannya sendiri bahkan yang ikut atas permintaan orangtuanya. Banyak sekali manfaat yang akan didapatkan oleh anak yang mengikuti ekstrakurikuler seni, berkembangnya kreativitas, belajar untuk mandiri dan bersosialisasi menjadi sedikit dari banyak nilai plus yang akan mereka dapatkan dari sana. Pendidikan kreatif seperti les mengambar, les tari Bali, umumnya dilakukan setelah anak pulang sekolah, hal ini menjadi salah satu hal yang sangat saya pikirkan, di sekolah mereka pasti sudah kehabisan tenaga mengikuti pelajaran maka apa iya mereka masih sanggup les ini itu? Tapi anak jaman sekarang memang superpower, mereka sanggup dan bahkan minta sendiri diikutkan les ini-itu. ntah karena ikutan tren teman-temannya, tapi semoga atas dasar motivasi sendiri.

Manfaat kursus/les/bimbingan belajar/rumah seni

Berbagai manfaat dari mengikuti kursus seni diantaranya adalah sebagai proses pengembangan kreativitas. Mengikuti les membiarkan otaknya dididik untuk lebih kreatif, menggunakan imajinasi untuk membuat karya. Mereka dapat menemukan kemampuan dirinya, kebebasan untuk berkarya membuat rasa percaya diri pun tumbuh. Anak-anak dapat belajar suatu proses penciptaan, menciptakan karya, menemukan nada, mempelajari gerakan tarian yang baru, hal ini dapat memacu anak untuk terus mengikuti perkembangan di kemudian hari. Dan jika nantinya anak mmemutuskan untuk mengikuti kompetisi atau perlombaan, mereka akan belajar mengenai adanya persaingan dan pengetahuan baru lainnya. Emosi, kesabaran, ketekunan dan ketelitian pun akan terasah dan teratur.

cheers,
sally

Gambar Anak

15 Mar

Gambar Anak

Waktu pertamakali mengikuti lomba menggambar tingkat anak-anak, menurut cerita dari kedua orangtua saya, saya menggambarnya dengan penuh perasaan sambil terus bercerita. Kadang sambil disuapi makan, tidur-tiduran dulu, main dulu, sampai akhirnya saya bilang ini sudah selesai gambarnya. Kelihatannya sama sekali tidak serius dan kalau orang lain liat mungkin bilang gambar saya jelek. Pokoknya saya heboh melakukan hal diluar kewajaran seorang anak yang sedang mengikuti lomba gambar, sedangkan samping kanan-kiri saya, sudah gambarnya hebat-hebat, warnanya dahsyat, serius pula. Orangtua saya memang tidak berniat mengikutsertakan saya untuk berkompetisi, hanya untuk pengalaman. Kalau ternyata pada akhirnya saya juara, ya mungkin sebagai bonus. Jeleknya, karena dari awal saya sudah menang, ketika di berbagai perlombaan berikutnya saya tidak memenangkan penghargaan, saya bisa ngamuk-ngamuk! Dasar anak-anak!

Oh iya apa yang Anda bayangkan saya gambar waktu itu? Untungnya, saya nggak menggambar pemandangan sawah kotak-kotak plus dua gunung yang ditengahnya ada setengah lingkaran matahari. Heheee… Gambar saya pada saat itu adalah gambaran dari keluarga inti saya, mom, papap dan adik perempuan saya, Binna. Nanti saya cari dulu foto dari gambar itu, karena dulu menjadi hak milik panitia setelah saya berhak membawa piala dan hadiah hasil juara I nya 😀

Dari beberapa studi, saya pernah membaca bahwa hasil gambar anak-anak bisa diklasifikasikan kedalam empat kategori yaitu:
1. Gambar Spontan, dimana mereka mengambar atas inisiatif sendiri dan dianggapnya sebagai bagian dari kegiatan bermain. Mereka bebas menggambar apapun yang mereka mau.
2. Gambar Bebas, yaitu hasil dari proses menggambar yang dilakukan atas permintaan orang lain. Misalnya diminta oleh orangtua, guru atau temannya. Temanya masih dipilih sendiri oleh si anak.
3. Gambar Terarah, adalah hasil dari dari proses menggambar yang temanya sudah ditentukan. Banyak lomba menggambar yang menentukan tema sehingga anak dapat menggambarkan hasil interpretasi mereka dari tema tersebut.
4. Menyalin atau Melengkapi Gambar, dimana anak menggambar mengikuti pola yang telah ada atau mewarnai dan memberikan tambahan atas format yang telah dipersiapkan. Hal ini baik untuk melatih kepekaan anak terhadap bentuk.

Saya pikir, dengan cara apa pun anak menggambar, biarkanlah mereka berkreasi bebas. Orang dewasa tidak perlu memberitahukan mereka bahwa awan itu biru rumput itu hijau. Jika mereka ingin menggambar awan berbentuk segitiga dengan warna magenta dan rumput berbentuk lingkaran-lingkaran berwarna emas, biarkanlah. Mungkin memang mereka melihatnya seperti itu atau ingin menyampaikan sesuatu. Bebas lah yaaa anak-anaaak 🙂

Ketika menulis ini saya jadi teringat salah satu dosen favorit saya di kampus dulu, FSRD ITB, Prof. Dr. Primadi Tabrani dan mata kuliahnya PSSR, how i missed him. Terakhir kali jumpa beliau sedang berjalan-jalan berdua dengan sang isteri. So romantic, Prof! ^^

cheers,
sallynatanegara

bakat?

14 Mar

berbakat kah anak kita? kalau kita sendiri? terus, emang bakat itu apa?

Saya sudah terbiasa dengan ”art things” sejak lama sekali, mungkin puncaknya sekira tahun 1988 ketika saya masih berusia 2 tahun dan memenangkan sebuah piala dari Lomba Kreativitas Melukis tingkat Anak-anak di Kebun Binatang Bandung. That was my greatest moment, said my mom and pap. Mereka bilang hanya iseng-iseng mendaftarkan saya ke lomba tersebut dan ternyata menang. Mulai dari sana lah mereka memiliki pikiran bahwa saya memiliki ”bakat” seni. Wah! Jadi saya adalah anak berbakat dong dari dulu? Horeee! Kalau ditanya, “Punya bakat apa Sal?” jadi saya bisa jawab, “Bakat seni nih!” Keren nggak tuh? hehehe…

Namun, hingga saat ini saya masih ragu akan arti dari bakat. Apa sebenarnya bakat itu? Apakah itu merupakan sesuatu yang sangat prinsipil dimana kehebatan seseorang pada akhirnya harus diperkuat oleh pernyataan, ”Oh emang dia berbakat menyanyi sejak masih anak-anak. Sering dapat piala waktu Agustusan pula. Pantas lah bila dia menjadi penyanyi idola saat ini.” Hmmm???

Bakat mungkin sesuatu yang diberikan Tuhan kepada beberapa orang untuk lebih mudah memahami/menguasai sesuatu dibandingkan dari orang lainnya, tapi bukan berarti orang yang ”tidak memiliki” bakat tidak akan bisa mempelajarinya bukan?
Saya sendiri percaya ungkapan, Learning by Doing, semuanya dapat dipelajari dengan melakukannya.
Banyak orangtua khawatir ketika mereka berpikir bahwa anaknya ”tidak memiliki bakat”, wah wah.. saya pikir itu aneh! Bukannya bakat tidak bisa dipaksakan dan tidak semua orang memilikinya? Mengapa jika memang anak kita tidak memiliki bakat istimewa sedari dini? Sebermasalahnya kah itu? Menurut Anda?

cheers,
sallynatanegara

play and art kids

13 Mar

Hallo! Welcome to play and art kids site. where we can play, learn and have fun!

My name is Sally. I graduated from Art and Design Faculty, ITB so I kinda Bachelor in Design if that is matter 😀

I love kids so much! Then I decided to play with the all the time!!! This world is a playground, where we can play and learn many things from it. Home is our heaven, where we can enjoy staying there without any worries. So me and miss bikinibitsy, wants to come to your house and playing with the kids! Then we can learn the basic art, drawing, coloring, painting, 3D, singing a song, and do whatever we want to do cos we’re learning!

Please e-mail me for further info : playandartkids@gmail.com

Hallo! Selamat datang di situs play and art kids. Dimana kita bisa bermain, belajar dan bersukaria!

Bermain di rumah Anda bersama miss bikinibitsy sepulang sekolah atau di waktu luang anak-anak Anda. Bukan sekedar privat gambar di rumah, kami akan belajar sambil bermain dalam konsep sederhana yang mudah diterima anak. Mempelajari dasar-dasar seni rupa dan berkreativitas dengan menggambar, melukis, mengenal bentuk, warna, bangun 3-Dimensi, dalam bahasa Indonesia dan Inggris. Fun learning mengikuti minat anak. Hubungi saya untuk informasi lebih lengkap, playandartkids@gmail.com.

terimakasih. thank you. gracias. merci beaocoup.

see you soon!!!

LOKASI : BANDUNG atau luar kota by e-mail (for home-schooling concept)