Saya pernah mengikuti kursus seni. Kelas 3 SMA, niat saya untuk mendaftarkan diri ke FSRD ITB semakin mantap. Seperti kebanyakan siswa tingkat akhir, saya juga terpengaruh oleh ”pentingnya bimbingan belajar” akbat dari lingkungan, iklan dan promosi gencar yang dilakukan oleh tempat-tempat kursus. Karena saya ingin masuk fakultas seni, maka saya mendaftar ke salah satu bimbel seni rupa terkenal di daerah Dago pada waktu itu. Sekali, oke, kedua kali, oke, temennya rame-rame, tapi akhirnya saya bosan dan akhirnya keluar sendiri setelah beberapa kali pertemuan. Lalu saya dan teman memutuskan untuk privat gambar kepada seorang alumni FSRD ITB juga. Yang istrinya adalah ketua ikatan alumni SR-ITB. Disini saya lebih betah, waktu belajar yang malam hari pun saya nggak masalah, meski nyetir sendiri pulang malem dan kata adik saya rumahnya berhantu, saya betah! Hehehe… Awalnya disana cuman kami berdua, lalu bertambah dengan seorang lagi dan dua keponakan si Oom guru les itu. Seru! Diantara kami berlima, hanya saya dan teman yang akhirnya lolos masuk UMFSRD, tapi hanya saya yang akhirnya lulus sarjana dari FSRD karena si teman haruslah pindah ke uni lain karena satu dan lain hal. Padahal waktu privat dulu, kami berdua lah yang paling sering ngabur, bolos ke mana kek, paling nggak serius dibanding tiga yang lain. Oiya ternyata, salah satu dari tiga itu ada yang buta warna parsial, sehingga dia gak mungkin masuk SR.
Rutinitas berangkat ke tempat les dengan satu kelas berisi belasan orang ternyata nggak cocok buat saya. I would prefer stay on a smaller class dengan cara belajar yang lebih personal. Hanya saja waktu itu saya udah kelas 3 SMA jadi agak malas kalau mesti guru privatnya yang datang kerumah, maka saya lah yang nyamperin beliau.
Balik lagi ke waktu yang lebih lama, waktu saya memenangkan lomba gambar di masa kecil yang saya ikuti. Salah satunya, terdapat seorang juri yang ceritanya selalu saya kenang, Bapak Oho Garha. Beliau yang pengajar seni rupa dan pelukis terkenal, sempat berbicara dengan mom&pap, pada saat itu saya peserta terkecil yang menang. Beliau menyarankan agar mom&pap tidak mendaftarkan saya ke sebuah tempat kursus gambar ternama di Bandung. Padahal waktu itu mereka sangat berpikiran untuk segera memasukkan saya kesana karena di usia 3 tahun saya sudah sering memenangkan lomba gambar dan berpikiran sayang sekali jika ‘bakat’ saya ini tidak diarahkan. Setelah ngobrol ini itu sama Pak Oho, didapat kesimpulan kalau anak ini sebaiknya tidak mengikuti kursus gambar di tempat-tempat les yang sedang hip. Dilihat-lihat, meski mereka hasil didikan tempat les sering memenangkan lomba, gaya gambar, cara mewarna, dsb mirip satu sama lainnya, yes, they got the style, the same style. Jadi kemudian saya akhirnya menggambar bebas, i draw what i want, with my own style . Meski saya ingat betul, waktu kecil kadang ngambek, kenapa sih saya nggak dimasukkin les? Kan iri sama “anak-anak les” yang sering menang itu karena gambar mereka menurut saya bagus banget. Padahal saya nyempil diantara mereka menang-menang juga. Dulu mom&pap belum menceritakan kenapa, baru lah setelah saya masuk SR mereka cerita. Dan belasan tahun kemudian, saya dengar dari burung yang bergentayangan, dulu anak-anak les itu pasti menang karena yang mengadakan lomba gambarnya juga masih rekanan tempat les tersebut, sponsor yang itu-itu lagi, dan lain-lainya…
Banyak sekali tempat kursus seni di kota Bandung. Mulai dari seni rupa, seni tari, seni musik, dsb. Dengan hubungan antara saya dengan tempat kursus gambar seperti cerita diatas, saya sangat bahagia melihat perkembangan anak-anak yang ikut les dengan kemauannya sendiri bahkan yang ikut atas permintaan orangtuanya. Banyak sekali manfaat yang akan didapatkan oleh anak yang mengikuti ekstrakurikuler seni, berkembangnya kreativitas, belajar untuk mandiri dan bersosialisasi menjadi sedikit dari banyak nilai plus yang akan mereka dapatkan dari sana. Pendidikan kreatif seperti les mengambar, les tari Bali, umumnya dilakukan setelah anak pulang sekolah, hal ini menjadi salah satu hal yang sangat saya pikirkan, di sekolah mereka pasti sudah kehabisan tenaga mengikuti pelajaran maka apa iya mereka masih sanggup les ini itu? Tapi anak jaman sekarang memang superpower, mereka sanggup dan bahkan minta sendiri diikutkan les ini-itu. ntah karena ikutan tren teman-temannya, tapi semoga atas dasar motivasi sendiri.
Manfaat kursus/les/bimbingan belajar/rumah seni
Berbagai manfaat dari mengikuti kursus seni diantaranya adalah sebagai proses pengembangan kreativitas. Mengikuti les membiarkan otaknya dididik untuk lebih kreatif, menggunakan imajinasi untuk membuat karya. Mereka dapat menemukan kemampuan dirinya, kebebasan untuk berkarya membuat rasa percaya diri pun tumbuh. Anak-anak dapat belajar suatu proses penciptaan, menciptakan karya, menemukan nada, mempelajari gerakan tarian yang baru, hal ini dapat memacu anak untuk terus mengikuti perkembangan di kemudian hari. Dan jika nantinya anak mmemutuskan untuk mengikuti kompetisi atau perlombaan, mereka akan belajar mengenai adanya persaingan dan pengetahuan baru lainnya. Emosi, kesabaran, ketekunan dan ketelitian pun akan terasah dan teratur.
cheers,
sally
Recent Comments